Visi global menuju ekonomi hijau menuntut peralihan ke sistem rendah karbon, yaitu dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan. Namun, transisi ini tetap membutuhkan banyak material dan energi, yang justru dapat meningkatkan aktivitas penambangan mineral serta ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Dengan menggunakan pendekatan ekologi politik global dan ekonomi politik internasional kritis, artikel ini membahas bagaimana praktik dan cara berpikir ekstraktif (eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran) masih terus berlanjut, bahkan di tengah upaya transisi rendah karbon. Selain itu, artikel ini juga menyoroti bahwa ketergantungan terhadap bahan bakar fosil justru bisa semakin meningkat dalam proses tersebut.
Melalui metode penelitian campuran, termasuk kerja lapangan di beberapa wilayah penghasil nikel di Indonesia, penelitian ini mengkaji bagaimana proses penambangan mineral “hijau” berlangsung di negara yang kaya sumber daya alam dan memiliki sejarah panjang praktik ekstraktivisme.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kondisi di mana praktik ekstraktif masih dominan, agenda global untuk mengurangi emisi karbon justru dapat mempercepat peningkatan penggunaan energi berbasis karbon (rekarbonisasi) dan memperdalam ketergantungan pada bahan bakar fosil di negara-negara kaya mineral. Akibatnya, berbagai ketidakadilan sosial dan kerusakan lingkungan yang terkait dengan penambangan nikel semakin diperkuat.
Keywords: Extractivism, extractive regime, Indonesia, low-carbon transition, recarbonization





