Perbedaan tujuan dan asumsi membuat cara kita memahami dan mengatur perubahan iklim menjadi beragam, semakin mendesak, dan sering kali bersifat eksperimental. Dalam penelitian ini, kami mengkaji bagaimana program uji coba (piloting) REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) dipahami dan dijalankan, melalui cerita-cerita dari penelitian etnografi yang dilakukan di Central Suau, Papua Nugini, dan Kalimantan Tengah, Indonesia.
Pendekatan “merangkai cerita-cerita sebagian” digunakan sebagai metode untuk melihat bagaimana berbagai pihak berinteraksi dan berkonflik dalam pelaksanaan REDD+. Program ini tidak hanya berkaitan dengan hutan, tetapi juga menyangkut lahan, mata pencaharian, manusia, makhluk non-manusia, kepercayaan lokal seperti praktik magis, serta karbon sebagai komoditas.
Kami mengusulkan istilah “jarak etis” untuk menjelaskan bagaimana eksperimen kebijakan seperti REDD+ berinteraksi dengan kehidupan masyarakat lokal, yang dalam praktiknya bisa saja memperkuat atau mengulang ketimpangan yang sudah ada. Dengan memperhatikan hubungan yang kompleks antara manusia dan non-manusia serta keterbatasan perspektif yang ada, penelitian ini menyoroti adanya dilema etis dan pentingnya untuk lebih berhati-hati serta tidak terburu-buru dalam merumuskan solusi terhadap perubahan iklim.
Keywords: Ethics; ontological politics; environmental governance; Indonesia; Papua New Guinea





